Human Insani

Human Insani

UU & Regulasi

UU & REGULASI ( SERIKAT PEKERJA )

PHI

UPAH

K3 & Jamsostek

Sukses Mengelola SDM Perusahaan

kinerja perusahaan yang baik
dapat berawal dari pengelolaan
SDM karyawannya. Gunakan free
software untuk kebutuhan ini.

Krisis ekonomi yang tengah melanda banyak sektor di seluruh dunia, berimbas pada banyaknya kejadian PHK massal di berbagai industri atau perusahaan besar di berbagai penjuru dunia termasuk di Indonesia. Lemahnya daya beli masyarakat, mahalnya harga kebutuhan pokok, masih tingginya suku bunga kredit yang ditawarkan perbankan, dapat menjadi beberapa contoh kasus yang dapat kita rasakan di Indonesia untuk saat ini. Namun dengan rasa optimis serta tetap bekerja keras, kita dapat berharap agar krisis ini dapat segera berlalu sehingga kesejahteraan untuk semua lapisan masyarakat dapat benar-benar terwujud di negara yang kita cintai ini. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk meningkatkan kapasitas produksi di saat kondisi ekonomi kembali membaik, ada baiknya para Human Resource Manager perusahaan mulai membuat perencanaan yang baik untuk menambah kembali sejumlah pegawai yang akan direkrut. Tentu saja akan lebih baik jika proses rekruitmen pegawai baru serta pengembangan sumber daya manusia yang telah ada di perusahaan, dilakukan dalam sistem informasi yang mudah dibaca. Dari sistem informasi ini, level atas seperti direktur, manajer, atau kepala cabang, dapat dengan mudah mengambil keputusan yang dibutuhkan untuk perusahannya.

Pertanyaannya, adakah sistem informasi Human Resource Management (HRM) yang murah dan mudah digunakan untuk hal ini? Karena tidak semua perusahaan, terutama perusahaan kecil dan menengah, mampu memiliki memperoleh software HRM karena lisensi aplikasi ini biasanya mahal. Jawabannya adalah ada. Aplikasi ini bahkan tersedia secara free dan memiliki kelengkapan modul yang cukup lengkap serta dapat menandingi sistem HRM komersial sejenis yang berharga ratusan hingga ribuan dollar. Nama aplikasi tersebut adalah OrangeHRM. OrangeHRM adalah sebuah solusi HRM berbasis open source yang ditujukan bagi kalangan usaha kecil dan menengah (UKM) dengan menyediakan sistem HRM yang luwes, mudah digunakan, murah biaya, dan berbasis web.


SEKILAS ORANGEHRM
Proyek pembuatan OrangeHRM dimulai pada musim gugur tahun 2005, dan rilis versi beta pertama dilakukan pada Januari 2006. Hari ini para pengguna OrangeHRM di seluruh dunia dapat menikmati solusi HRM secara bebas, stabil, dan sangat bermanfaat. Saat ini OrangeHRM telah memasuki rilis versi 2.6.1 dan masih akan ditambah dengan modul-modul pelengkap lainnya seperti Performance Appraisal dan Training Module. Sistem OrangeHRM telah didukung oleh layanan yang profesional sejalan dengan pesatnya pertumbuhan dan popularitasnya yang dikenal luas oleh komunitas open source sedunia. Melalui pengembangan dan peran serta dari komunitas pengguna, para developer dan mitra, manfaat dan fungsi OrangeHRM masih terus disempurnakan. Dari waktu ke waktu, OrangeHRM terus mengalami penyempurnaan dan pengayaan fitur.

FITUR ORANGEHRM

OrangeHRM memberikan solusi lengkap yang sangat membantu Human Resource Manager dalam menjalankan kegiatan Human Resource Management di kantor. Berikut sejumlah fitur yang dimiliki oleh OrangeHRM
  1. Informasi Perusahaan. Dalam fitur ini, OrangeHRM memberikan kemudahan untuk mengisi data perusahaan (namaperusahaan, alamat, lokasi kantor cabang).
  2. Struktur Organisasi, Jabatan, Uraian Jabatan, dan Skala Gaji. OrangeHRM memiliki fasilitas untuk membuat struktur organisasi di mana masing-masing karyawan melekat pada satu pekerjaan atau jabatan tertentu, termasuk di dalamnya skala gaji untuk masing-masing jabatan.
  3. Administrasi Data Karyawan. OrangeHRM dilengkapi dengan fasilitas pengelolaan informasi data karyawan meliputi data pribadi (nama, alamat, telepon, kontak, tanggungan dan lain-lain), foto karyawan, riwayat karir karyawan, keterampilan, riwayat pelatihan serta sertifikasi yang dimiliki karyawan, pendidikan, serta berbagai informasi tambahan yang dapat dilampirkan pada masing-masing file karyawan.
  4. Absensi Karyawan. Di dalamnya, OrangeHRM mempunyai fasilitas absensi karyawan termasuk pembuatan jadwal kerja karyawan yang dapat dimonitor oleh atasannya.
  5. Pengelolaan Cuti. OrangeHRM juga mempunyai fasilitas untuk mengelola cuti karyawan, termasuk di dalamnya
    rencana pengajuan cuti, pengambilan cuti, sisa cuti ataupun pembatalan cuti dan penghitungan sisa cuti.
  6. Jaminan Sosial. OrangeHRM dilengkapi dengan fasilitas pengelolaan manfaat bagi karyawan seperti skema Jamsostek atau bentuk-bentuk benefit bagi karyawan lainnya yang dapat dikonfigurasi sendiri sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
  7. Rekruitmen. Fitur  ini adalah fasilitas untuk membuka iklan lowongan kerja di internet. Kelebihan yang dimiliki dibanding sistem lainnya, bila terdapat pelamar yang mengajukan lamaran, maka manajer yang membuka lowongan akan langsung menerima pemberitahuan e-mail dari sistem dan dapat segera menentukan jadwal wawancara atau tahapan seleksi berikutnya. Informasi tersebut juga akan disampaikan langsung oleh sistem kepada pelamar. Segala proses seleksi tersebut akan tercatat oleh sistem.
  8. Pembuatan laporan dan pencarian data. Di dalam OrangeHRM disediakan fitur untuk membuat laporan karyawan sesuai dengan field data yang dikehendaki (customized) sesuai keperluan. Selain itu, disediakan fitur untuk mencari data karyawan dengan cepat melalui berbagai kriteria yang tersedia, misalnya berdasarkan ID kar- yawan, nama karyawan, jabatan dan lain sebagainya.
  9. Entri data oleh semua orang dengan otorisasi terkendali. OrangeHRM memungkinan 3 jenis rang yang dapat mengisikan data dan melihat data di OrangeHRM sesuai dengan batas-batas wewenang yang diberikan kepadanya, yang diantaranya:
    • Administrator System (HR Admin User): Otoritas tertinggi yang dapat mengubah semua data dari sistem.
    • Admin User Group: Misalnya Supervisor Personalia yang dapat mengubah modul-modul terbatas dari OrangeHRM atau pun manajer yang mempunyai akses untuk mengontrol absen, cuti dan kegiatan anak buahnya.
    • Employee Self Service: Fasilitas ini memungkinkan karyawan mengisi sendiri data-data kepersonaliaan sebatas wewenang yang diberikan, juga dapat mengisi pengajuan cuti, pembuatan jadwal kerja mingguan, dan lain sebagainya.

MODUL-MODUL ORANGEHRM
OrangeHRM dibuat berdasarkan arsitektur modular yang terdiri dari modul-modul berikut:
  1. Modul Admin.
  2. Modul PIM.
  3. Modul ESS (Employee Self Service).
  4. Modul Cuti (Leave Module).
  5. Modul Waktu Kerja (Time Module).
  6. Modul Laporan (Report Module).
  7. Modul Pelacak BUG (Bug Tracking Module).
  8. Modul Rekrutmen (Recruitment Module).
Gmb.1. Proses Instalasi di Xampp
1297049467868200589
Download OrangeHRM

Read More...

Mungkinkah HR Menjadi

Di era knowledge economy, manusia merupakan modal utama setiap organisasi sehingga melahirkan istilah human capital (seperti nama majalah kita ini, red). Pada saat kita berbicara tentang manusia, maka seyogyanya peran bagian HR (human resource) akan tampak menonjol dan signifikan dalam setiap organisasi. Seharusnya inilah era bagi Direktur, Manajer atau Kepala Bagian HR untuk tampil ke depan berdiri sejajar – kalau tidak mendominasi – dengan direktur bidang lainnya.

Kenyataannya tidaklah begitu. Sebagian besar orang-orang HR tertinggal di belakang, dan dalam beberapa kasus mengalami pengkerdilan dalam arti yang sebenamya. Penyebabnya sangat beragam, mulai dari CEO yang kurang memahami atau menganggap penting aspek human capital bagi kesuksesan organisasi hingga kesalahan orang-orang HR sendiri yang tidak pernah berusaha menjadi mitra bisnis sejajar.
Dalam kasus pertama, CEO atau direksi lain beranggapan bagian HR cukup mengurusi aspek administrasi personel saja, seperti gaji, lembur, absensi, melakukan PHK, dan sejenisnya. Sebagian besar aktivitas itu kini bisa dilakukan dengan menggunakan sistem teknologi informasi (TI) sumber daya manusia yang disediakan oleh berbagai pengembang piranti lunak berskala kecil hingga berskala besar macam Oracle, People Soft, SAP, dan sebagainya. Maka, begitu otomatisasi administrasi HR itu dinilai lebih efisien dan akurat, fungsi pengadministrasian itu diambil-alih oleh TI (dalam hal ini biasanya dikelola oleh bagian TI).
Pengambilalihan ini semakin membuat orang HR kehilanganp peran dan eksistensinya. Konsekuensinya, jumlah bagian HR berkurang drastis. Tak jarang, akhirnya, orang-orang HR kemudian digabungkan ke dalam bagian TI dengan kepemimpinan berada di tangan orang TI – bukan di tangan orang HR. Mereka pun dipaksa untuk belajar teknologi ketimbang menjalankan peran HR yang lebih dibutuhkan.
Keputusan manajemen perusahaan “mengkerdilkan” bagian HR -seperti di atas jelas sebuah kekeliruan besar. Nyawa manajemen HR tidak akan bisa dijalankan oleh mesin atau oleh orang TI. Teknologi dibuat oleh orang-orang TI dengan memahami proses bisnis bagian HR, bukan sebaliknya. Oleh sebab itu, seperti ditegaskan Regional Sales Leader Mercer Consulting Greg Lipper, teknologi hanya buseess enabler dalam bidang HR – alat bantu dalam menjalankan pekerjaan. “TI tidak bisa menggantikan peran HR secara menyeluruh,” tegasnya kepada Human Capital. Lagipula, fungsi bagian HR delam era knowledge economy tidak lagi sebatas proses pengadministrasian tetapi jauh lebih strategis dari hal itu.
Sejatinya, orang-orang TI pun mengakui bahwa dalam manajemen HR, jauh lebih baik menyerahkannya kepada orang HR yang mengerti teknologi ketimbang orang TI yang mengerti mengenai HR. "Manajemen HR jauh lebih rumit daripada manajemen teknologi. Pengetahuan dasarnya justru berada di tangan orang HR,” tukas Gunawan Lukito, Direktur Pemasaran Oracle.
Ancaman lain yang berdampak pengkerdilan terhadap bagian HR adalah derasnya praktik outsourcing HR. Sekitar 2002, misalnya, perusahaan migas Maxus Indonesia membabat habis orang HR dengan hanya menyisakan 2 orang saja (VP HR dan satu sekretaris merangkap stafnya). Pembabatan ini dimungkinkan karena sebagian besar proses manajemen HR dialihdayakan kepada perusahaan lain. Begitu mudahnya bagian HR dipreteli.

Kasus Maxus di atas merupakan kasus ekstrim, namun gelombang outsourcing (alih daya) bidang HR dalam skala lebih kecil berlangsung cepat di dunia dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah survei global terhadap perusahaan besar oleh Hewitt Associates tahun ini mendapatkan fakta 94% telah mengalihdayakan setidaknya 1 (satu) aktivitas di bidang HR. Sebelum 2008, menurut survei yang sama, perusahaan tersebut telah menyusun rencana untuk memperluas praktik outsourcing ke berbagai aktivitas HR, termasuk fungsi pembelajaran dan pengembangan, penggajian, rekrutmen, kesehatan dan kesejahteraan, dan mobilitas global.
Berbagai tren pengkerdilan di atas benar-benar akan mengkerdilkan bagian HR sehingga menjadi pukulan mematikan bagi orang-orang yang ingin berkarir di bagian HR bila mereka membiarkannya terjadi. Transformasi fungsi dan cara berpikir orang HR menjadi jawaban kuncinya.
“Mereka harus menjalankan peran yang lebih strategik dalam konteks keberhasilan organisasi,” ujar Dr. AS Ruki, konsultan SDM senior di Indonesia.
Transformasi tersebut enak untuk diucapkan, tetapi tidak mudah dalam pelaksanaannya. Kebutuhan untuk melakukan transformasi sejalan dengan semakin berkembangnya bisnis. Menurut pandangan guru manajemen HR terkemuka dari University of Michigan Dave Ulrich dalam bukunya Human Resources Champion, ada 4 tahapan peran yang dijalankan bagian HR di dalam setiap perusahaan.

Tahap pertama adalah HR tradisional atau tahap administrasi, di mana bagian HR hanya menjalankan fungsi administrasi saja, seperti membayar gaji, menghitung absensi, lembur, dan seterusnya. Perkembangan berikutnya melahirkan tahap kedua, yaitu bagian HR harus menyesuaikan peraturan perusahaan dengan peraturan pemerintah (government accountability), misalnya hubungan industrial – di luar pekerjaan administratif tadi. Kita mengenal pula istilah hubungan karyawan (employee relationship).
Tahap ketiga, bagian HR berperan dalam aspek yang lebih strategik, yaitu pengembangan SDM (HR Development) – di luar peran pengadministrasian dan mengelola HR sesuai aturan pemerintah. Tahap keempat, bagian HR sudah berperan sebagai mitra bisnis (business partner) perusahaan. HR bukan hanya memainkan peran dasarnya sebagai bagian dari manajemen, tetapi berperan penting dalam menentukan kesuksesan bisnis perusahaan. Peran HR pada tahapan terakhir ini merupakan tuntutan dari era human capital.

Pada tahapan mana bagian HR perusahaan berperan, menurut Dosen & Assistant Director CBM & EDP Prasetya Mulya Matakhir Derita, sangat ditentukan sejauh mana perkembangan perusahaan. “Jika masih baru, tentu masih dalam tahap administrasi. Perusahaan yang sudah matang atau mapan tentu mengharuskan bagian HR sebagai mitra strategik perusahaan,” ungkapnya.
Dave Ulrich juga menjelaskan 4 fungsi yang bisa dijalankan bagian HR sebagai mitra bisnis strategik. Pertama, sebagai mitra strategik bagi eksekutif puncak dalam melakukan formulasi dan implementasi strategi bisnis. Bagian HR bukan hanya berperan dalam menyusun dan melaksanakan strategi bisnis perusahaan, tetapi seperti dikatakan Direktur bii Sukatmo Padmosukarso juga mewarnai strategi dan implementasinya. Kedua, sebagai agen perubahan. Mereka mampu mendesain, mempelopori, dan mengubah sikap dan perilaku SDM perusahaan sesuai dengan budaya yang dibutuhkan.
Ketiga, berperan dalam meningkatkan kinerja dan kontribusi karyawan terhadap keberhasilan perusahaan sehingga bisa menjadi champion bagi perusahaan. Fungsi terakhir, keempat, bagian HR harus ahli dalam menjalankan administrasi bidang SDM: rekrutmen, training dan pengembangan, peningkatan kinerja, sistem remunemerasi, dan seterusnya.

“Fungsi keempat ini harus beres dulu, karena itu merupakan fungsi dasar dari bagian HR. Kalau belum beres, bagaimana bisa bagian HR bicara strategi?” tambah Matakhir dengan nada bertanya.
Menggunakan pemikiran Dave Ulrich, kebanyakan bagian HR perusahaan di Indonesia masih berada pada tahap pertama dan tahap kedua. Sebagian kecil sudah masuk ke tahap ketiga, dan nyaris sedikit sekali organisasi di mana bagian HR-nya bisa disebut sebagai mitra bisnis strategik perusahaan. Lukman Kristanto, Direktur HR Mulia Group, setuju dengan kesimpulan tersebut. “Mereka masih sibuk dan tenggelam dengan masalah administrasi. Cuma dia lupa tidak mengaitkannya dengan aspek bisnis perusahaan.”
Lucky Suardi, Konsultan dari Mercer HR Consulting, sering mendapatkan keluhan dari manajemen puncak perusahaan tentang kurangnya pemahaman bagian HR terhadap visi, misi, dan strategi bisnis perusahaan. “Itu konsisten kami temui di sejumlah perusahaan khususnya perusahaan yang sedang bertransformasi, ” akunya. Sementara di perusahaan yang sudah mapan, lanjutnya, secara umum mereka telah menempatkan HR di posisi yang tepat.

Lukman tidak setuju jika HR sebagai mitra strategik hanya untuk perusahaan yang sudah mapan ataupun sedang melakukan transformasi fungsi. Seharusnya di setiap perusahaan, paparnya, bagian HR menjadi mitra strategik, dan hal ini sangat tergantung kepada orang yang memimpin bagian HR itu sendiri. “Kalau dia old fashion, susah juga,” katanya.

Unilever Indonesia merupakan salah satu perusahaan yang memiliki bagian HR dengan fungsi mitra bisnis strategik. Implementasi sistem Balanced Scorecard di perusahaan produk konsumen terkemuka ini semakin mengukuhkan peran vital bagian HR terhadap pencapaian bisnis perusahaan, karena mereka bertanggung jawab dalam perspektif learning & growth dengan ukuran-ukuran kinerja (Key Performance Indicator/KPI) yang jelas. Bukan hanya pasif menunggu kebijakan bisnis perusahaan, tetapi juga proaktif memberikan masukan dalam formulasi dan implementasi strategi bisnis.
Strategi manajemen sangat menentukan lahimya bagian HR yang paham tentang bisnis dan bagaimana berkontribusi dalam pencapaian target bisnis perusahaan. Menurut Josef Bataona, Direktur HR Unilever Indonesia, setiap hari seluruh karyawan Unilever dibiasakan melihat pencapaian bisnis Unilever (realisasi vs target bisnis hingga hari itu secara kuantitatif) di layar TV yang ada di pojok setiap lantai Graha Unilever. Jika kinerja setiap kategori bisnis belum memuaskan, karyawan dari setiap bagian akan berpikir apa yang bisa mereka lakukan untuk meningkatkan kinerja tersebut. “Semuanya kami coba kuantitatifkan dalam bentuk bottom line. Toh, ujung-ujungnya kita berbicara pencapaian finansial,” tuturnya mantap.
Dengan cara ini, seluruh bagian perusahaan – termasuk bagian HR- akan terbiasa dan selalu berpikir dalam konteks bisnis. Bahasa komunikasinya pun jadi sama: bahasa bisnis. Orang HR otomatis tahu apa makna dari tidak tercapainya sebuah target bisnis dalam perspektif manajemen HR: pengembangan kompetensi, manajemen talenta, perbaikan sistem promosi dan insentif, dan seterusnya.

Bagaimana caranya?
Pada dasamya menjadi mitra bisnis strategik mengharuskan orang-orang HR paham tentang visi, misi, dan strategi bisnis perusahaan. Pemahaman tersebut menjadi dasar bagi bagian HR menjalankan transformasi bagian HR melalui dua jalur : menyelaraskan strategi manajemen HR dengan strategi perusahaan, dan memberikan layanan HR secara efektif dan efisien.

Pertanyaannya, seberapa banyak orang HR yang mengerti visi, misi, dan strategi bisnis perusahaannya bekerja? Ada banyak cara bagi bagian HR untuk memahami visi, misi, dan strategi bisnis perusahaannya, antara lain, menghadiri setiap rapat eksekutif, mendengarkan ceramah/pengarahan eksekutif lainnya, membaca buku laporan tahunan, bertanya kepada CEO, membaca selebaran informasi internal perusahaan, berita pers, dan analisis industri.
Sejatinya, strategi bisnis setiap perusahaan sangat beragam: mempertahankan posisi pemimpin pasar, meningkatkan pangsa pasar, menjadi perusahaan terbesar, menjadi perusahaan paling menguntungkan, meningkatkan kepuasan pelanggan, paling cepat meluncurkan produk/layanan baru, fokus pada segmen bisnis yang paling menguntungkan, dan seterusnya. Setiap strategi bisnis tersebut membutuhkan manajemen HR yang berbeda-beda: mulai dari profil kompetensi orang yang dibutuhkan hingga program training dan remunerasinya.
Namun, di sinilah seringkali orang HR kedodoran. Studi di negara Anerika menunjukkan, manajer HR kurang memiliki minat di bidang hisnis atau diperlengkapi dengan pengetahuan tentang bisnis. Sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap karyawan potensial (talent) yang akan menentukan masa depan perusahaan, kenyataan ini sangat memprihatinkan.
Studi lain oleh Society for Human Resource Management (SHRM), sangat sedikit orang HR yang memiliki gelar di luar S-1 (bachelor degree). Kondisi ini lebih buruk dari kondisi tahun 1990. Studi yang sama memberikan data menarik: ditanya tentang berbagai kursus akademik yang paling bernilai untuk kesuksesan karir di bidang HR, mereka menjawab keahlian berkomunikasi interpersonal dinilai paling penting (83%). Pengetahuan tentang UU Ketenagakerjaan dan Etika berada di urutan berikutnya, masing-masing 71% dan 66%. Kemampuan manajemen perubahan hanya 35%, dan manajemen strategik hanya 32%. Lalu, pengetahuan tentang keuangan? Hanya 2%.

Masalah lain, kalaupun manajer atau eksekutif HR cukup memahami aspek bisnis, Dave Ulrich menyampaikan kritiknya bahwa mereka lebih mementingkan aktivitas di bidang HR daripada hasilnya. Dia memberi contoh pemberian training berdasarkan ukuran jam training setahun tanpa diketahui sampai sejauh mana efektivitas training tersebut. Idealnya setiap aktivitas training juga mengukur ROI (Return on Investment). “Anda akan dinilai efektif bila memberikan nilai tambah,” sambil menegaskan, “Anda dinilai bukan pada apa yang dikerjakan, tetapi pada apa yang dihasilkan.”
Menurut Dave Ulrich dalam buku The HR Value Proposition, HR harus menciptakan nilai bagi perusahaan. Caranya banyak: mendorong pengembangan kompetensi dan komitmen bagi seluruh karyawan, mengembangkan kemampuan bagi manajer untuk menerapkan strategi, membantu membangun hubungan dengan pe-langgan, dan menciptakan kepercayaan terhadap investor terhadap nilai masa depan dari perusahaan.
Bagi profesional HR, berbagai matriks manajemen HR sudah menjadi makanan sehari-hari. Sayangnya, sangat sedikit yang menghubungkannya dengan kinerja bisnis. Sebagai institusi pencipta kekayaan (wealth creation), pada akhirnya seluruh aktivitas yang dilakukan perusahaan – termasuk manajemen HR – berujung pada imbal-hasil finansial (financial return). Itu sebabnya, gagasan agar pucuk pimpinan tertinggi HR menjadi CPO (Chief Performance Officer) kini bergaung keras.
Kalau kritik terhadap peran strategik HR di Amerika masih sebegitu besamya, bisa dibayangkan betapa kondisi empirisnya di Indonesia jauh lebih buruk dari hal tersebut. Dewasa ini, menurut Mercer, sekitar 50% bagian HR perusahaan Amerika sedang mentransformasikan perannya menuju mitra strategik, sementara di Asia angkanya mencapai 75% ke atas.

Repotnya, strategi bisnis perusahaan bisa berubah setiap tahun. Ini ikut menyulitkan orang HR untuk memahami strategi bisnis perusahaan dan menyelaraskan manajemen HR dengan strategi tersebut. Cepatnya dinamika perubahan bisnis diakui Corporate Services Director Indosat S. Wimbo S. Hardjito seringkali membuat bingung bagian HR. Setiap perubahan menuntut orang dengan kompetensi berbeda. Ia memberi contoh, dulu Rumah Sakit (RS) membutuhkan dokter yang bagus, tetapi sekarang selain bagus juga harus ramah dalam melayani. Selain itu, dulu manajemen RS menganggap orang yang datang ke RS, namun sekarang RS harus dipromosikan kepada konsumen. “Makanya, RS pun butuh orang pemasaran,” tuturnya.
Contoh lain adalah IBM. Dulu perusahaan raksasa ini menganggap dirinya sebagai perusahaan komputer sehingga membutuhkan orang yang pintar. Belakangan IBM mengklaim dirinya sebagai perusahaan jasa. Yang dibutuhkan jelas orang yang ramah dalam melayani. Sering terjadi, bagian HR terlambat melakukan antisipasi maupun penyesuaian terhadap kompetensi orang yang dibutuhkan.
Dalam persepsi Sukatmo Padmosukarso, Direktur bii, orang-orang HR tidak perlu memahami bisnis terlalu detil karena itu aka menyedot waktu dan konsentrasi sehingga mengganggu pekerjaannya sebagai orang HR.
“Memahami proses bisnis secara umum pun sudah cukup, namun harus memiliki kompetensi sebagai orang HR mumi," tegasnya. Untuk menjadikannya sebagai mitra strategis, bagian HR bii diikutkan dalam proses formulasi strategi bisnis dan berbagai forum bisnis lainnya. “Selain berpartisipasi, mereka juga mewamai strategi bisnis tersebut,” katanya. Dalam setahun terakhir, bahkan, bagian HRdi serahkan untuk mendidik line manager – tidak seperti yang terjadi di banyak perusahaan di mana peran line manager sedemikian sentralnya sehingga mengkerdilkan peran HR.

Bagi Julianto Sidarto, Country Manager Accenture, tidak semua bagian HR harus menjadi mitra bisnis strategik, tergantung pada bagaimana manajemen perusahaan menempatkan posisi HR, strategis apa tidak. Selama bukan bagian dari manajemen, maka bagian HR hanya menjalankan fungsi administrasi saja. “Hal seperti ini banyak terjadi di Indonesia,” ujamya. Hal tersebut jelas tidak terjadi di� Accenture. “Karena aset utama kami adalah manusia.” Di sini. HR merupakan bagian dari manajemen sehingga mendapat perhatiari sama dengan bagian pemasaran dan keuangan. Kalau bagian HR tidak jalan, lanjutnya, sebagai perusahaan penjual jasa manusia, maka tidak ada yang bisa dijual oleh Accenture.
Sulitnya Mencari Orang HR Berkualitas
Persoalannya, pasokan tenaga profesional di bidang HR di Indonesia sangat terbatas. Sumber pasokan utama profesional HR biasanya adalah lulusan psikologi dan hukum. Di bangku kuliah, mereka memang tidak diajarkan tentang berbagai aspek bisnis perusahaan yang sebetulnya terkait dengan tugas mereka sebagai orang HR Akibatnya, pemahaman orang HR terhadap bisnis perusahaan sangat rendah. Sulit sekali mendapatkan orang HR yang benar-benar profesional, seperti diakui Richard McHowat, CEO HSBC Indonesia.
“Saya kira sistem pendidikan HR di Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan kalangan bisnis,” tukasnya. Baginya maupun bagi HSBC, bagian HR memiliki fungsi strategik untuk pencapaian target bisnis perusahaan. “CEO dan eksekutif HR harus jalan bersama-sama. Tidak bisa jalan sendiri-sendiri,” katanya mengilustrasikan pentingnya bagian HR. Secara singkat Richard mengatakan, bila manusia menjadi faktor pembeda bisnis perusahaan dengan pesaing maka berbagai aspek manajemen HR mulai dari rekrutmen hingga sistem reward harus dibuat secara terpadu.

Konsekuensi dari terbatasnya jumlah profesional HR di Indonesia – yang memiliki pemahaman tentang bisnis – menyebabkan banyak perusahaan terpaksa mengambil orang bisnis untuk memimpin bagian HR. Faktanya, sebagian besar eksekutif HR perusahaan di Irdonesia berasal dari kalangan bisnis, bukan orang-orang HR tulen. Endiy PR Abdurrahman, Direktur HR HSBC Indonesia, misalnya, berasal dari kalangan bisnis. S. Wimbo S. Hardjito, sebelum menjadi Direktur HR, adalah orang bisnis (CEO Satelindo). Juga Sukatmo Padmosukarso (bii), Nimrod Sitorus (Bank Mandiri), Muliadi Raharja (Bank Danamon), Kemal Ranadireksa (Bank BNI), dan banyak lagi.
Tetapi, pilihan terhadap orang bisnis ini tidak selalu manjur. Sukatmo menceritakan pengalamannya saat diminta memimpin bagian HR bii ketika bergabung dengan bank itu 2002. Sebagai eksekutif yang berasal dari bisnis jelas pengetahuannya tentang HR tidaklah lengkap. Ketika ia mengajak Kepala Divisi HR dan jajarannya mendiskusikan sistem manajemen HR bii dan berbagai teori HR, semuanya malah tidak mengerti. Rupanya sebagian besar orang HR berasal dari bisnis, yang besar di era kepemimpinan keluarga Eka Tjipta Widjaja dan tidak dibekali kemampuan mengelola orang yang baik. Wajar saja jika kemudian seringkali terjadi demonstrasi karyawan yang merasa tidak puas terhadap manajemen bii pada periode 1999-2001.
Richard McHowat sebetulnya lebih senang bila yang memimpin HR benar-benar praktisi HR sehingga perusahaan tidak perlu sering mengirimkannya ke berbagai program training, konferensi, dan seminar HR. “Sebab, untuk bisa bekerja profesional, orang bisnis harus dibekali dulu ilmu dan teori HR yang memadai,” lanjutnya.
Kelangkaan tenaga profesional HR ini menyebabkan pasar profesional HR mengalami booming. “Sulit sekali mencari profesional HR berkualitas,” aku beberapa eksekutif perusahaan executive search / head hunter kepada Human Capital.
Bagaimana seorang CEO menempatkan fungsi HR memang sangat menentukan strategik atau tidaknya bagian HR. Seperti Richard, CEO Telkomsel Kiskenda Suriamihardja, juga menempatkan bagian HR pada posisi yang sangat strategis. Itu sebabnya, ia memegang langsung manajemen HR bersama-sama dengan Direktur HR, VP HR, dan Kepala Divisi HR. "Soal manajemen HR saya tidak mau main-main. Maju atau tidaknya organisasi sangat ditentukan keberhasilan dalam mengelola HR,” tegasnya serius.
Sebagai orang Telkom, sikap dan keyakinan Kiskenda itu telah menjadi ciri khas orang Telkom, warisan nyata dari mantan CEO Telkom Cacuk Sudarijanto (alm.). Lain lagi dengan Robby Djohan. Di setiap perusahaan yang dia pimpin tidak ada jabatan Direktur HR karena menurutnya manajemen HR harus langsung dipegangnya sebagai CEO. “Bagian lain tidak perlu saya urus, tetapi manajemen HR itu harus ditangani langsung oleh CEO,” begitu ia menjelaskan prinsipnya.

Beruntunglah orang HK bila memiliki CEO dengan pemikiran di atas. Bagi yang tidak beruntung, untuk menjadi dan dianggap mitra bisnis strategik memang butuh upaya ekstra. Ia tidak datang dengan sendirinya. Henurut para penulis buku The Essentials of Negotiation, hasil kerjasama Harvard Business School dengan SHRM, praktisi HR harus meningkatkan kemampuan dirinya dalam bernegosiasi untuk mendapatkan dukungan dari bos, kolega, dan para bawahan (baca: “Strategi Menjadi Mitra Bisnis Strategik”).

Sekarang terpulang kepada para praktisi HR: ingin menjadi mitra strategik atau tidak? Read More...

Transformasi SDM : Suatu Pendekatan Kajian Awal

Dalam banyak paparan baik yang tertulis maupun dalam seminar-seminar, upaya untuk meningkatkan peran SDM di berbagai organisasi perusahaan semakin sering kita dengar. Dimulai dari hal-hal yang bersifat mendasar, penyebutan nama unit organisasi SDM misalnya, dan penggunaan nama personalia menjadi Sumber Daya Manusia. Akhir-akhir ini bahkan mulai banyak kita dengar penggunaan nama Human Capital.
Sesuai dengan namanya, peran manajemen SDM pun telah banyak melalui proses transformasi. Dari peran dan fokus pada kegiatan administrasi personalia semata-mata, menjadi mitra bisnis dari jajaran manajemen ini. Manifestasi peran strategis ini salah satunya dapat terlihat dari keterlibatan langsung para pimpinan puncak perusahaan dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis SDM; keberadaan anggota direksi yang khusus mengelola aspek perencanaan dan pengembangan SDM.
Sebagaimana dikatakan oleh David Ulrich, seorang pakar dan penulis di bidang SDM : HR should not be defined by what it does but by what it delivers to the organization's customers, investors and employees. Peran dan fokus tidak lagi pada aspek standard staffing dan� penyelesaian isu-isu kompensasi misalnya, tetapi lebih pada aspek-aspek yang berorientasi pada outcomes.
Dan berbagai survey dan pengamatan, isu-isu strategis SDM belakangan ini semakin sering kita dengar; semakin banyak menjadi topik bahasan menarik dalam forum-forum eksekutif. Pengembangan kepemimpinan, transformasi organisasi dan budaya perusahaan, identifikasi dan pengelolaan talenta, peningkatan produktivitas dan pembelajaran, perencanaan dan penyelenggaraan program-program pelatihan telah menjadi fokus perhatian para jajaran pimpinan perusahaan. Fenomena ini merupakan gambaran yang amat menggembirakan bagi kita para profesional SDM. Isu SDM tidak lagi semata-mata menjadi isu SDM, tetapi telah menjadi isu strategis para eksekutif pengelola bisnis dan organisasi.
Sekalipun banyak perusahaan yang telah melalui proses transformasi SDM sebagaimana disebutkan di atas, masih banyak perusahaan yang masih mencoba mengidentifikasi di mana sesungguhnya letak permasalahan yang dihadapi, khususnya yang terkait dengan aspek manajemen SDM. Keluhan-keluhan para jajaran eksekutif yang banyak kita dengar antara lain, bahwa manajemen SDM perusahaan tidak dapat merespon cepat kebutuhan-kebutuhan bisnis perusahaan seperti misalnya menurunnya kepuasan pelanggan, pertumbuhan revenue, dll.
Di sisi lain, data dan informasi SDM yang tersedia seringkali sulit dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan-keputusan strategis SDM perusahaan. Kebijakan dan prosedur pengelolaan SDM tidak jelas, tidak konsisten penerapannya. Mengapa kita tidak dapat menarik, mempertahankan tenaga profesional yang handal.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, assessment / kajian terhadap kondisi current state dari manajemen SDM akan sangat membantu. Sebagian perusahaan menggunakan istilah HR Audit; ada yang menggunakan istilah HR Diagnostic Review atau HR Organizational Assessment. Pada intinya semua adalah sama, yaitu mengukur efektivitas pengelolaan SDM perusahaan dalam memenuhi kebutuhan bisnis dan organisasi.
Sebagai suatu perangkat diagnostik awal, berikut kami sajikan suatu kerangka pendekatan yang dapat digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang merasa perlu melaksanakan assessment sebagaimana dijabarkan di atas. Pertama-tama, analisa dan tetapkan fokus / alasan utama mengapa assessment perlu dilakukan. Kelompokkan kemudian informasi / pertanyaan ke dalam sejumlah topik :
•��� �HR mission and vision, objectives and strategy

Adakah keterkaitan antara strategi bisnis dan strategi SDM (misal, di saat fokus bisnis perusahaan adalah pada aspek-aspek pertumbuhan revenue, kepuasan pelanggan, perbaikan kualitas, sejauh mana strategi SDM turut mempertimbangkan program-program seperti pengembangan kepemimpinan, transformasi budaya perusahaan, organisasi dll). Apa yang penting menjadi sasaran utama keberadaan organisasi SDM? Peran SDM?
•��� �HR organizational structure

Berdasarkan sasaran dan strategi yang telah ditetapkan, sejauh mana pengelompokan fungsi-fungsi organisasi SDM menunjang pencapaian sasaran dan strategi? Apakah pengelolaan SDM akan menjadi lebih efisien bila sebagian kegiatan dilakukan di-shared service center / outsource? Berapa jumlah staf yang ada? Profil kompetensi? Sejauh mana profil kompetensi yang ada menunjang pencapaian sasaran dan strategi SDM? Apa yang diharapkan menjadi ukuran kinerja SDM?
•��� �HR policies and practices

Sejauh mana kebijakan-kebijakan SDM yang ada menunjang sasaran dan strategi SDM? Sejauh mana keterkaitan terapan kebijakan dan praktek-praktek SDM dengan hasil (HR outcomes)? Apakah kinerja karyawan meningkat? Absentism menurun? Orientasi karyawan pada pelanggan meningkat? Pendelegasian wewenang pengambilan keputusan berjalan efektif?
•��� �HR Information Technology.

Sejauh mana teknologi mendukung efektivitas dan efisiensi pengelolaan SDM?
•��� �HR client / customer focus

Siapa yang menjadi client / customer (pelanggan) dari SDM? Sejauh mana kepuasan pelanggan SDM diukur? Sejauh mana ukuran kinerja SDM terutama yang terkait dengan aspek kepuasan pelanggan dirumuskan secara jelas? Sejauh mana isu-isu kepuasan pelanggan dikelola? Sejauh mana teknologi menunjang kelangsungan proses SDM dengan HR client ?
Mudah-mudahan pertanyaan-pertanyaan diatas dapat bermanfaat dalam menganalisa sejauh mana langkah-langkah untuk meningkatkan lebih jauh efektivitas manajemen SDM perusahaan diperlukan. Sebagaimana disampaikan oleh Ulrich, HR can deliver excellence in four ways: becoming a Partner in Strategy Execution; becoming an Administrative Expert; becoming an Employee Champion; and, becoming a Change Agent.
Kesadaran, kesediaan para eksekutif perusahaan untuk melakukan investasi di SDM sebagaimana halnya investasi di bidang bisnis, ditunjang dengan apresiasi lebih terhadap nilai dan kapabilitas profesional SDM, memungkinkan suatu organisasi merealisasikan potensi dari karyawan yang dimiliki secara lebih optimal. Read More...

Menyelaraskan SDM dengan Strategi Bisnis

Apa yang sebenarnya diperlukan dalam upaya penyelarasan sumber daya manusia dengan strategi bisnis?

Idealnya: transformasi sumber daya angkatan kerja. Istilah kerennya, HR Workforce Transformation: mentransformasi SDM menjadi profesional berkeahlian tinggi sehingga selaras dengan kebutuhan manajemen. Sebab, dengan hal tersebut, perusahaan dapat melakukan hal-hal berikut: pertama, meningkatkan dampak strategis SDM dalam mengembangkan kemampuan organisasi sekaligus mengurangi biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja. Kedua, mengurangi biaya SDM melalui proses transaksi yang lebih efisien, memanfaatkan teknologi yang bersifat swalayan, dan memiliki pendukung yang bersifat sentral.

Ini bukan isapan jempol. Sejumlah bukti menunjukkan bahwa transformasi SDM dapat memberi manfaat, antara lain: menurunkan biaya pengelolaan SDM sebesar 29%, menurunkan biaya rata-rata per transaksi SDM sebesar 60%, dan menurunkan biaya administrasi sebesar 20-25% melalui jasa swalayan pegawai dan manajer. Namun, yang perlu diperhatikan dalam transformasi SDM adalah memahami bahwa setiap karyawan memberi kontribusi berbeda untuk kinerja organisasi Di sini, proses kerja, perangkat teknologi dan program kerja yang sesuai akan membantu memaksimalisasi kontribusi mereka terhadap terciptanya kinerja tinggi.
Bagan di bawah ini menggambarkan proses dalam mentransformasi SDM. Pertama, Manajemen K, mencakup kompensasi dan penghargaan, nilai dan pengukuran kinerja, evaluasi kerja dan bimbingan. Kedua, Pengembangan Kinerja, yang berkaitan dengan keahlian serta kerangka kompetensi, manajemen pembelajaran dan manajemen pengetahuan. Berikutnya, Manajemen Alur Kerja untuk merekrut dan menyeleksi angkatan kerja, pengembangan karier dan perencanaan peremajaan (suksesi), dan perencanaan penempatan. Semua itu akan dapat berjalan bila organisasi menerapkan strategi SDM yang menganut prinsip: (1) menarik minat SDM berbakat; (2) mengembangkan keahlian utama; (3) secara berkelanjutan meningkatkan kinerja; dan (4) mempertahankan sumber daya berkinerja tinggi.

Lantas, bagaimana implementasi seluruh unsur di atas?
Berikut adalah contoh implementasi transformasi SDM di sebuah industri pertambangan di Indonesia dalam upaya menyeraskan karyawannya dengan strategi bisnis perusahaan.
Tantangan Bisnis yang Dihadapi
Dalam era yang selalu diwarnai peningkatan harga sumber daya mineral, banyak perusahaan pertambangan yang ingin meningkatkan produktivitas operasional dan menurunkan biaya operasional. Sebuah perusahaan pertambangan skala global yang beroperasi di Indonesia menginginkan bantuan Accenture untuk menganalisis bagaimana menurunkan biaya operasional, terutama yang berkaitan dengan SDM. Tepatnya, melihat kesempatan menempatkan posisi angkatan kerja ke tingkat optimal dan menyelaraskan hubungan antara hal yang imperatif (alur kerja bisnis) dan permintaan SDM.
Salah satu elemen kunci dari usaha ini adalah melakukan studi optimalisasi sumber daya untuk mengidentifikasi sekaligus menyelaraskan kebutuhan sumber daya dengan strategi bisnis. Optimalisasi tersebut akan mengembangkan model SDM yang memperhitungkan jumlah pekerja yang tepat diperlukan dan melakukan benchmark dengan perusahaan tambang lainnya.

Program Apa yang Dilakukan?
Sebuah model SDM untuk implementasi dalam jangka lima tahun diadopsi perusahaan tambang tersebut. Model ini melihat pada operasional (di permukaan, bawah tanah dan proses produksi), jasa teknis (konstruksi, teknik, manajemen tailing), dan pendukung usaha (pengelolaan SDM, TI, rantai persediaan, keuangan dan akuntansi, hubungan eksternal, keselamatan, lingkungan dan kesehatan, serta keamanan), dan sekaligus menyiapkan peta perjalanan untuk mencapai tingkat angkatan kerja yang dibutuhkan.
Adapun penilaian yang dilakukan adalah untuk: (1) menentukan dampak strategi bisnis dan operasional perusahaan terhadap penempatan tenaga kerja, (2) bekerja sama dengan para eksekutif senior untuk menyetujui peta perjalanan tingkat tinggi untuk mendapatkan angkatan kerja yang optimal, (3) menciptakan gambaran pekerja di lapangan, dan (4) mengevaluasi dampak finansial dalam pendekatan gambaran angkatan kerja


Note : Dikutip dari Majalah SWA, edisi Kamis 28 Juni 2007, sebagai sumber inspirasi bisnis saya.

Read More...

Peran HR Semakin Dihargai

Talent management telah menjadi isu di tingkat CEO, dan bukan sekedar "kerjaan orang HR". Semakin banyak CEO dan anggota dewan perusahaan lainnya yang memperhatikan masalah-masalah rekrutmen, retensi dan mengikat talent sebagai tantangan terbesar bisnis yang mereka hadapi saat ini. HR pun makin dihargai.

Demikian benang merah hasil studi Vurv Technology, perusahaan global penyedia teknologi HR, bekerja sama dengan lembaga think tank, pendidikan dan asosiasi profesional Human Capital Institute di AS. Studi bertajuk "The Role of HR in the Age of Talent" yang melibatkan hampir 800 profesional HR dan non-HR tersebut menemukan, HR semakin dilihat oleh dewan perusahaan sebagai bagian penting dan strategis dari keseluruhan kinerja bisnis.

Lebih jauh, studi tersebut menguji, ketika talent management telah menjadi isu perusahaan, apakah HR mampu menaikkan reputasinya dan mendapatkan respek serta tanggung jawab yang sama dengan fungsi-fungsi bisnis yang penting lainnya. Dan, menurut responden, HR telah memberikan hasil. Sebanyak 66% mengatakan bahwa HR telah dihargai atau sangat dihargai, dan secara berkala atau sering dimintai pendapatnya mengenai strategi perusahaan.

Survei juga menyoroti soal penggunaan teknologi-teknologi dalam talent management. Recruitment, Performance Management dan Learning Systems merupakan tiga teknologi HR utama yang paling diprioritaskan. Sementara, Succession Planning dan Performance Management adalah dua aplikasi yang disebut-sebut akan diimplementasikan berikutnya. Responden juga mengakui, sedikit-banyak mengambil manfaat dari teknologi web 2.0 seperti situs-situs jaringan sosial, blog dan wiki.

"Kami gembira melihat organisasi semakin memanfaatkan teknologi-teknologi talent management, dan berencana untuk mengimplementasikan lebih banyak lagi pada tahun-tahun mendatang untuk menjawab tantangan-tantangan yang mereka hadapi," ujar VP HR pada Vurv Sam Hanson.

“Profesi HR perlu meredifinisi peran HR sebagai upaya untuk memberikan langkah-langkah yang dibutuhkan organisasi guna menghadapi kompleksitas dalam membangun dan menjaga lingkungan kerja yang mampu menjawab tantangan," tambah dia.

Menurut laporan penelitian tersebut, lambat tapi pasti profesi HR sedang bertransformasi. Para pemimpin mulai dan semakin menyadari bahwa HR tidak akan bisa mengembangkan talent management jika masih dibebani dengan pekerjaan administratif sehari-hari. Dikatakan, di zaman talent sekarang ini, HR harus dikelola dengan keahlian yang benar.



"Laporan hasil penelitian ’The Role of HR in the Age of Talent’ memperlihatkan bahwa organisasi yang sukses adalah yang menempatkan talent management sebagai prioritas bagi setiap pemimpin, manajer dan supervisor," ujar Direktur Eksekutif Human Capital Institute Allen Schweyer.

"Di era ketika talent langka serta retensi dan mengikat karyawan merupakan tantangan besar, senang melihat kaum eksekutif perusahaan semakin menghargai (peran) HR dan teknologi talent management untuk mendukung inisiatif-inisiatif penting dalam bisnis." Read More...

Perusahaan Sulit Mendapatkan Future Leader

Untuk mengetahui kebutuhan human capital (HC) dalam 3-5 tahun ke depan, sejatinya perusahaan melakukan analisis yang dikaitkan dengan tuntutan sosial, politik, perubahan struktur organisasi, revisi proses bisnis, dan rencana jangka panjang/tahunan. Jika analisis seperti ini dilakukan secara rutin, perusahaan akan tahu kebutuhan orang untuk menjalankan bisnis ke depan. “Sayangnya, banyak perusahaan di Indonesia mengabaikan hal ini. Ketika bisnis makin berkembang, perusahaan kekurangan orang yang kompeten,” demikian disampaikan Octa Melia Jalal di sela-sela acara The 3rd Human Capital National Conference 2010 di PPM Manajemen, Jakarta, 14-15 Desember.

Dari pengalaman mengajar di PPM dan memberikan konsultansi di berbagai perusahaan, Mia – panggilan akrab Octa Melia Jalal – menilai, banyak perusahaan di Indonesia yang tidak memiliki perencanaan matang dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Akibatnya, perusahaan sulit mencari pemimpin yang dapat memenuhi kebutuhan organisasi di masa depan. “SDM yang ada tidak cukup qualified untuk mengerjakan pekerjaan saat ini. Atau, SDM yang ada sudah bagus tapi industrinya berubah. Jadi, tuntutannya semakin tinggi,” ungkapnya.

Mia menyampaikan, kurangnya perhatian perusahaan terhadap kebutuhan SDM terungkap dari hasil survei yang dilakukan PPM tahun ini (2010). Responden yang terlibat dalam survei ini berjumlah 59 perusahaan, berasal dari industri alat berat, consumer goods, telekomunikasi, ritel, rumah sakit, dan lembaga swadaya masyarakat. Menurutnya, tujuan dari survei ini untuk mengetahui praktik akusisi HC di perusahaan.

Dalam pandangan PPM Manajemen, akuisisi HC dimulai dari proses rekrutmen, seleksi, hingga penempatan orang. Dalam penerapannya, akuisisi juga berhubungan dengan hal lain seperti pengembangan SDM, engagement, dan retention. “Dengan mengetahui hal ini, perusahaan dapat merencanakan rekrutmen untuk memenuhi kebutuhan SDM di masa datang,” ujarnya.

Survei yang memotret perkiraan kebutuhan HC ini memperlihatkan bahwa 27,1% perusahaan sudah memiliki dan menjalankan rencana jangka panjang (RJP) dan rencana tahunan dengan baik; 47,5% perusahaan telah memiliki rencana jangka panjang (RJP) namun masih perlu disempurnakan; dan sisanya (25,4%) belum melakukan sama sekali. “Ini menunjukkan, mereka (karyawan) tidak tahu dalam jangka panjang perusahaan mau kemana?” kata Mia bertanya.

Di samping itu, dari survei diketahui pertimbangan yang mendasari perkiraan kesediaan HC di perusahaan. Di antara tiga parameter yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan HC – yaitu perencanaan suksesi, staffing table, dan audit HC – hanya staffing table yang menunjukkan angka cukup tinggi (44,1%). Menurut Mia, responden yang perencanaan suksesinya sudah berjalan baik hanya 16,9%; 47,5% masih perlu disempurnakan; dan 35,6% belum melakukan. Sementara itu, responden yang sudah menjalankan audit HC dengan baik angkanya lebih minim lagi, yaitu hanya 5,1%. Sebagian besar responden (64,4%) sudah melakukan namun tidak yakin benar; dan 30,5% belum melakukan.

“Sejauh ini yang mereka lakukan belum benar karena penghitungan suplai dan demannya tidak sesuai. Tak heran jika banyak perusahaan yang mengeluh belum bisa memenuhi kebutuhan SDM saat ini dan mendatang,” tutur Mia menandaskan. Jadi, apa yang harus dilakukan perusahaan? ”Pertama, perusahaan harus tahu, leaders seperti apa yang dibutuhkan organisasi dalam 3-5 tahun ke depan. Kemudian dihitung, berapa leaders yang ada dan berapa kekurangannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Yang tak kalah penting adalah, manajemen harus melibatkan praktisi human capital dalam membuat program jangka panjang dan rencana tahunan perusahaan,” katanya menyarankan. ■ Firdanianty Read More...

Perusahaan Sulit Mendapatkan Future Leader

Untuk mengetahui kebutuhan human capital (HC) dalam 3-5 tahun ke depan, sejatinya perusahaan melakukan analisis yang dikaitkan dengan tuntutan sosial, politik, perubahan struktur organisasi, revisi proses bisnis, dan rencana jangka panjang/tahunan. Jika analisis seperti ini dilakukan secara rutin, perusahaan akan tahu kebutuhan orang untuk menjalankan bisnis ke depan. “Sayangnya, banyak perusahaan di Indonesia mengabaikan hal ini. Ketika bisnis makin berkembang, perusahaan kekurangan orang yang kompeten,” demikian disampaikan Octa Melia Jalal di sela-sela acara The 3rd Human Capital National Conference 2010 di PPM Manajemen, Jakarta, 14-15 Desember.

Dari pengalaman mengajar di PPM dan memberikan konsultansi di berbagai perusahaan, Mia – panggilan akrab Octa Melia Jalal – menilai, banyak perusahaan di Indonesia yang tidak memiliki perencanaan matang dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Akibatnya, perusahaan sulit mencari pemimpin yang dapat memenuhi kebutuhan organisasi di masa depan. “SDM yang ada tidak cukup qualified untuk mengerjakan pekerjaan saat ini. Atau, SDM yang ada sudah bagus tapi industrinya berubah. Jadi, tuntutannya semakin tinggi,” ungkapnya.

Mia menyampaikan, kurangnya perhatian perusahaan terhadap kebutuhan SDM terungkap dari hasil survei yang dilakukan PPM tahun ini (2010). Responden yang terlibat dalam survei ini berjumlah 59 perusahaan, berasal dari industri alat berat, consumer goods, telekomunikasi, ritel, rumah sakit, dan lembaga swadaya masyarakat. Menurutnya, tujuan dari survei ini untuk mengetahui praktik akusisi HC di perusahaan.

Dalam pandangan PPM Manajemen, akuisisi HC dimulai dari proses rekrutmen, seleksi, hingga penempatan orang. Dalam penerapannya, akuisisi juga berhubungan dengan hal lain seperti pengembangan SDM, engagement, dan retention. “Dengan mengetahui hal ini, perusahaan dapat merencanakan rekrutmen untuk memenuhi kebutuhan SDM di masa datang,” ujarnya.

Survei yang memotret perkiraan kebutuhan HC ini memperlihatkan bahwa 27,1% perusahaan sudah memiliki dan menjalankan rencana jangka panjang (RJP) dan rencana tahunan dengan baik; 47,5% perusahaan telah memiliki rencana jangka panjang (RJP) namun masih perlu disempurnakan; dan sisanya (25,4%) belum melakukan sama sekali. “Ini menunjukkan, mereka (karyawan) tidak tahu dalam jangka panjang perusahaan mau kemana?” kata Mia bertanya.

Di samping itu, dari survei diketahui pertimbangan yang mendasari perkiraan kesediaan HC di perusahaan. Di antara tiga parameter yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan HC – yaitu perencanaan suksesi, staffing table, dan audit HC – hanya staffing table yang menunjukkan angka cukup tinggi (44,1%). Menurut Mia, responden yang perencanaan suksesinya sudah berjalan baik hanya 16,9%; 47,5% masih perlu disempurnakan; dan 35,6% belum melakukan. Sementara itu, responden yang sudah menjalankan audit HC dengan baik angkanya lebih minim lagi, yaitu hanya 5,1%. Sebagian besar responden (64,4%) sudah melakukan namun tidak yakin benar; dan 30,5% belum melakukan.

“Sejauh ini yang mereka lakukan belum benar karena penghitungan suplai dan demannya tidak sesuai. Tak heran jika banyak perusahaan yang mengeluh belum bisa memenuhi kebutuhan SDM saat ini dan mendatang,” tutur Mia menandaskan. Jadi, apa yang harus dilakukan perusahaan? ”Pertama, perusahaan harus tahu, leaders seperti apa yang dibutuhkan organisasi dalam 3-5 tahun ke depan. Kemudian dihitung, berapa leaders yang ada dan berapa kekurangannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Yang tak kalah penting adalah, manajemen harus melibatkan praktisi human capital dalam membuat program jangka panjang dan rencana tahunan perusahaan,” katanya menyarankan. ■ Firdanianty Read More...