Rata-rata biaya yang diperlukan untuk mengganti karyawan adalah dua kali gaji mereka. Ini berarti jika anda akan mengganti karyawan yang mendapakatkan gaji £ 40 K / tahun, maka biaya untuk menggantinya adalah hampir £ 80 K.*
Mengapa?
Karena anda harus memasang iklan atau membayar jasa pencari pekerja, biaya perekrutan yang akan memerlukan biaya sampai beberapa ribu pound.
Pemeriksaan Riwayat Hidup, melakukan pemeriksaan latar belakang, mencari referensi, penyusunan dan melakukan wawancara atau melakukan berbagai penilaian – yang semua itu membebani Anda banyak waktu dan biaya.
Staf baru selalu lebih mahal daripada staf yang ada; seseorang yang ada di perusahaan anda selama 10 tahun memiliki gaji yang lebih rendah daripada seseorang dengan kualifikasi yang sama yang akan anda pekerjakan besok.
Biasanya jarang anda dapat berkata “Selamat Tinggal” kepada seoarang pegawai di hari Senin dan “Halo” kepada peggantinya nya di hari Selasa. Biasanya ada jeda waktu, dan selama masih ada jeda, maka biasanya pekerjaan dilakukan oleh pekerja tambahan dari pekerja sementara. Keduanya akan memerlukan biaya atau bahkan sampai terjadi kerugian bisnis.
Dalam bidang penjualan, konsultasi, dan bisnis-bisnis yang lain, akan selalu ada resiko yang akan menjadi sahabat anda dan juga kemungkinan kehilangan pelanggan, dan hal-hal lainnya. Di situ ada kemungkinan potensi biaya dan kompensasi.
Dan pada akhirnya, anda tidak akan pernah tahu apakah ini dapat berhasil dengan orang baru. Peluang anda adalah 50% apakah mereka akan sama bagusnya atau lebih baik daripada pendahulunya, dan 50% bahwa anak baru tersebut berkemampuan lebih buruk ( dan harus diganti kembali, yang akan memerlukan biaya kembali dan membawa gangguan, masalah dan kerugian terhadap bisnis).
Khususnya dalam hal penjualan, pergantian pegawai adalah sampai dengan 12-18 % dalam setahun, * dan jika organisasi anda mengalami pergantian sebesar 24 % * ( hampir seperempat dari keseluran pegawai mengalami hal ini)*, maka biaya untuk mengelola pergantian pegawai ini akan menambahkan 10% terhadap pengeluaran anda* - yang merupakan pengeluaran yang banyak.
Jadi, bukankah akan sangat bagus jika bisa mencari orang di bidang penjualan seberapa bagusnya dia SEBENARNYA sebelum anda memperkejakan dia ? Orang-orang di bidang sales secara alami akan sangat bagus dalam menjual dirinya, tetapi bagaimana anda tahu seberapa bagus dia saat bekerja sebelum anda memutuskan untuk mempekerjakan mereka?
Bukankah luar biasa jika anda bisa mengetahui dengan pasti tombol apa yang harus anda tekan untuk memotivasi karyawan anda? Kita cenderung berpikir bahwa itu semua adalah tentang uang dan melupakan bahwa uang itu adalah “”Faktor Kesehatan”: yang mencegah timbulnya kekecewaan, meskpin telah memiliki standar gaji yang tinggi sepanjang waktu.
Read More...
Human Insani
UU & Regulasi
UU & REGULASI ( SERIKAT PEKERJA )
PHI
UPAH
K3 & Jamsostek
Menurunkan Biaya Pegawai dan Biaya Kesehatan Pegawai
Meningkatkan Efektivitas Training atau Pelatihan
Banyak perusahaan yang sangat sedikit mengadakan pelatihan dan pengembangan para karyawannya. Ada juga perusahaan yang sangat menghindari investasi dalam pelatihan. Ini karena mereka ragu apakah investasinya akan dapat kembali lagi untuk perusahaan.
Meskipun demikian, saat ini, sebagian besar para manajer dalam perusahaan sangat menghargai pentingnya pelatihan dan bersedia melakukan investasi untuk pelatihan dan pengembangan para pegawai mereka.
Departemen Human Resources (HR) di perusahaan-perusahaan dapat memainkan peran yang sangat penting dalam menciptakan peluang ini dan memasukkannya ke dalam system dan proses untuk melakukan pelatihan supaya lebih efektif. Berikut ini beberapa hal yang dapat diambil oleh HR:
1. Menghubungkan pelatihan ke sistem yang lain:.
Pelatihan adalah proses pengembangan. Meskipun demikian, pengembangan berarti memahami kemampuan setiap individu pegawai, mengenali perbedaan dan fokus kepada pelatihan yang tepat untuk orang yang tepat. Kita dapat melihat bahwa hal ini membawa kepada hubungan dengan proses perekrutan dan penilaian kinerja.
Perekrutan merupakan titik masuk pegawai ke dalam perusahaan. Keberhasilan membaca profile seorang pegawai pada tahap ini akan membantu perusahaan dalam membaca kekuatannya dan mengembangkannya di masa yang akan dating. Mirip dengan hal tersebut, penilaian kinerja merupakan suatu bentuk latihan yang periodik, yang akan memberikan peluang untuk organisasi untuk dapat mengambil kemampuan yang ada pada karyawannya dan mengenali adanya hambatan atau suatu kemampuan yang perlu dikembangkan, hal ini penting untuk perkembangan karir individual dan perencanaan bisnis perusahaan.
2. Menyusun pelatihan dengan aktivitas yang sistematik:
Pada suatu hari tiba-tiba seorang pegawai menerima panggilan dari Managernya, yang kemudian meminta dia untuk menghadiri program pelatihan tentang komunikasi yang diadakan dua hari ke depan.
Pegawai tersebut tidak siap. Ada prioritas lain untuk minggu ini. Tiba-tiba saja sang pegawai harus merubah prioritasnya atau merubah jadwal kegiatannya, atau yang lebih buruk lagi jika dia harus bekerja keras untuk dua hari ke depan untuk menyelesaikan beberapa tugas penting dengan terburu-buru suoaya dapat menghadiri program pelatihan itu.
Semua ini akan mengakibatkan sang pegawai menghadiri pelatihan tersebut tanda ada persiapan dalam pikirannya. Tidak aka nada keinginan yang positif dan siap menerima yang sangat diperlukan dalam pelatihan. Waktu dan uang yang dikeluarkan untuk program ini akan menjadi sia-sia saja.
Ini adalah scenario yang banyak dilakukan di banyak perusahaan, yang menganggap program pelatihan adalah sesuatu dimana seorang karyawan harus “dikirimkan”. HR dapat melakukan banyak kendali dan membuat pelatihan ini dalam bentuk aktivitas yang sistematik.
Perencanaan untuk program-program ini harus dilakukan dengan baik, dipersiapkan bahan bacaan dan latihan untuk pegawai, mengirimkan pengumuman dan menyiapkan alat komunikasi yang diperlukan untuk berbagai jenis pelatihan yang akan diadakan, semua hal tersebut akan sangat membantu. Secara umum, perencanaan yang dilakukan, menyiapkan pegawai, menumbuhkan semangat dasar untuk mendapatkan manfaat dari pelatihan adalah hal-hal yang dapat sangat membantu juga.
3. Memantau aktivitas pelatihan:
Banyak perusahaan yang memiliki matrik tentang jumlah hari pelatihan. Diantaranya ada yang melakukan pengawasan secara periodik, tetapi kebanyakan tidak melakukannya. Dalam hal ini perlu dilakukan perbandingan antara banyaknya pelatihan dengan jumlah kompensasinya. Kompensasi harus dengan baik di awasi, dianalisa dengan mendalam, antar departemen, fungsinya dan lain-lain.
Tingkat kecermatannya mungkin sama, tetapi dapat hilang dalam hal pelatihan. Mungkin karena pemantauan dan analisa pelatihannya harus dilakukan secara lebih serius sebagaimana dalam kasus kompensasi. Matrik itu mungkin banyak membantu. Akan tetapi harus dengan hati-hati di awasi dan ditunjukkan ke depan para pemegang keputusan, untuk membantu mereka memberikan fokus kepada usaha mereka dan rencana pelatihan dengan cara yang sistematik.
Read More...
Pengukuran Efektivitas Pelatihan atau Training
Pengukuran efektivitas pelatihan selalu merupakan suatu tantangan, dimana dalam faktanya, ada hubungan antara usaha pelatihan dan hasilnya dalam pekerjaanan. Serta tidak ada yang dapat menyangkal bahwa pelatihan berperan dalam meningkatkan pengetahuan, keahlian, dan kinerja pegawai perusahaan, yang merupakan kinerja keseluruhan unjuk kerja suatu perusahaan.
Dalam pelatihan terdapat korelasi yang bagus dengan kinerja sehingga para pemilik perusahaan terbaik di seluruh dunia terus mencari cara yang lebih bagus dan sistematis untuk melakukan pelatihan karyawannya. Tanpa mengabaikan fakta bahwa ada hubungan langsung antara program pelatihan dan peningkatan kinerja karyawan yang melakukan pelatihan yang saat ini tidak terbantahkan lagi, pengumpulan umpan balik akan membantu untuk menyesuaikan usaha untuk semakin memajukan program pelatihan ini.
Dalam konteks ini, saya merekomendasikan tiga tingkatan proses untuk mengumpulkan umpan balik dari sebuah pelatihan. Tingkat pertama adalah segera setelah menyelesaikan program.
Tujuan utama dari umpan balik ini adalah untuk mengetahui seberapa bagus pengajar memberikan program itu, tingkat manfaat program dan efektivitas metodelogi yang ada. Tingkatan kedua adalah pengumpulan umpan balik setelah tiga puluh hari dari selesainya program.
Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa efektif program itu diingat, dan pertanyaan yang harus diberikan adalah: apakah apa yang dipelajari dari program tersebut masih diingat oleh para karyawan? Korelasi antara tujuan dari program dan apa yang diingat para karyawan adalah indikator yang bagus untuk mencari tahu seberapa besar manfaat program tersebut. Dan akhirnya, pada tahap ketiga adalah kita harus memberikan perhatian kepada penerapan dari program pelatihan ini dalam pekerjaan sehari-hari, apakah prosesnya ada kurang atau berlebihan.
Di sini dikumpulkan umpan balik dari karyawan itu sendiri dan juga supervisornya. Dan fokus kepada umpan balik juga mengenai atribut atau daerah yang dijangkau dalam pelatihan dan bagaimana penerapannya dalam pekerjaan setiap individu. Ketiga tahapan proses itu selain memberikan umpan balik untuk peningkatan upaya pelatihan, juga memberikan kontribusi pada pembentukan budaya belajar.
Metodologi Campuran:
Gaya belajar setiap individu adalah berbeda-beda. Untuk menjabarkan cara mengajar dan belajar suatu hal dapatlah berbeda-beda. Apa yang mungkin berhasil untuk pelatihan dalam subyek teknikal mungkin tidak akan dapat diterapkan untuk hal tingkah laku, demikian juga sebaliknya. Dengan memanfaatkan teknologi dan perkembangan dalam budaya belajar di internet, maka pelatihan tidaklah menggunakan cara pelatihan tradisional saja.
Setiap metodologi memiliki keunggulan dan kelemahan yang berbeda-beda. Sebuah metodologi dapat berjalan dengan baik dalam konteks tertentu dan belum tentu dalah konteks yang lain. Biayanya mungkin juga berbeda-beda dari setiap metodologi. Ini menjadi tanggung jawab petugas pelatihan untuk memilih metodologi yang paling sesuai dengan kontek organisasi, untuk subyek tertentu dan untuk peserta yang sesuai.
Daripada mencoba untuk mencari cara-cara yang terbaik, maka seseorang dapat memilih dua dari ketiga pilihan dengan obyektif yang sama, yaitu pelatihan dan peningkatan dalam hal kemampuan para pegawai.
Apa yang paling efektif dalam membantu penerapan semua factor-faktor yang disebutkan di atas:
1. Sistem manajemen pelatihan yang bagus dan menyeluruh. Beberapa system yang mencakup wilayah-wilayah yang disebutkan di atas dan melibatkan pihak-pihak yang berperan, seperti pegawai, manajer, HR/ fungsi pelatihan dan kepemimpinan
2. Pegawai yang terlatih dan khusus menangani pelatihan. Diharapkan untuk dapat memiliki tim yang khusus untuk dapat menangani proses pelatihan dalam sebuah perusahaan. Meskipun demikian, untuk ukuran perusahaan yang ada saat ini, beberapa perusahaan kecil mungkin tidak akan mampu untuk menugaskan pegawai yang khusus menangani masalah pelatihan, tanggung jawab mengenai hal ini harus dijabarkan dengan jelas dalam HR untuk perusahaan ini
Read More...
Games untuk Kegiatan Training dan Pelatihan
Permainan adalah alat yang paling efektif untuk mengajarkan keahlian kepemimpinan. Untuk dapat memberikan bentuk permainan yang menyenangkan, maka harus meletakkan permainan teoritis ke dalam bentuk aplikasi terapan. Konsistensi kepemimpinan memiliki tantangan yang berbeda, situasi yang memerlukan keahlian untuk melakukan penyelesaian permasalahan, dan seringkali muncul situasi yang memerlukan komunikasi yang efektif dengan terus bekerja.
Pelatihan kepemimpinan adalah elemen utama untuk keberhasilan. Peningkatan keahlian kepemimpinan sangat diperlukan untuk meremajakan dan menyegarkan para pemimpin tersebut.
1. Tujuan
Tujuan dari penggunaan alat permainan untuk menghadapi dan meningkatkan keahlian kepemimpinan. Salah satu tujuan dari permainan sebagai salah satu aspek penting : sebuah pekerjaan, dan pelajaran hidup untuk mengatasi permasalahan dapat dibentuk secara langsung. Misalnya, sebuah jalur yang sesuai dengan kepemimpinan mereka. Setiap orang yang merupakan sasaran dari permainan diurutkan berdasarkan tanggal lahir mereka. Untuk mengatasi kesulitan yang dipikirkan oleh semua orang, dan setiap orang juga dibolehkan untuk memakai penutup mata. Orang-orang tidak akan dapat berbicara, tetapi pasti memiliki visi. Tujuan dari hal ini adalah untuk memberikan pendirikan lebih lanjut bagi Tim, yaitu pendidikan mengijinkan.
2. Keahlian mendengarkan
Pemimpin kita duduk di lantai. Mereka memilih cerita yang harus anda dengarkan kemudian diteruskan ke anggota yang lain. Cerita itu berisi banyak hal yang detail. Anda dapat menceritakan cerita anda sendiri atau menggunakan cerita dari buku anak. Rata-rata orang akan berusaha keras untuk mengingat semua hal detail itu untuk dapat menceritakan kisah itu kembali. Setelah selesai, ketiga orang itu membentuk tiga grup tim yang berbeda. Setiap grup diarahkan untuk dapat mengingat hal-hal yang detail itu. Berikan lembar kerja. Grup itu akan bekerja bersama-sama, berkomunikasi dengan efektif satu sama lain dan akan menguatkan keahlian mendengarkan mereka.
3.Aktivitas di luar ruangan
Olah raga di luar ruangan seperti sepakbola bendera, menangkap bendera, dan bola voli, juga memerlukan keahlian kepemimpinan. Anda tentukan olah raga luar ruangan yang biasa dan ubahlah menjadi sedikit sulit. Misalnya, anda memilih bola voli pantai dan ditambahkan elemen kejutan. Setiap tim akan memilih pemimpin mereka dan pemimpin itu akan diberikan waktu untuk mengembangkan strategi dan rencananya.
Read More...
Pemberdayaan Sumber Daya Manusia dalam Upaya Pelestarian Budaya Spiritual
I. Pendahuluan
Budaya spiritual dapat dipahami sebagai tradisi turun-temurun masyarakat yang merupakan perwujudan dari pikiran dan tingkah-laku manusia dalam berhubungan dengan kekuatan-kekuatan di luar dirinya, yakni kekuatan-kekuatan spiritual dan gaib. Kegiatan olah spiritual ini bermaksud mempertebal dan memperkuat daya rohaniah dan batiniah dengan mendekatkan diri sedekat-dekatnya dengan Kekuatan dan Kekuasaan Yang Maha Agung, Yang Maha Mulia.
Kegiatan olah rohaniah dan batiniah ini di Indonesia, khususnya di Jawa, secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dilakukan dalam masyarakat, dengan wadah-wadah perkumpulan atau paguyuban spiritual sehingga membentuk budaya spiritual yang secara nyata menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan bangsa.
II. Sumberdaya Manusia
Sumberdaya manusia (SDM) dalam budaya spiritual di Indonesia lazim disebut ”penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Secara umum, sumberdaya manusia (SDM) dalam kegiatan-kegiatan budaya spiritual dapat dibagi menjadi 2 (dua) macam. Pertama, SDM pemuka atau pemimpin; kedua, SDM peserta atau kader.
Mengenai yang pertama, SDM pemuka atau pemimpin terdiri dari SDM yang harus diteladani, menjadi panutan dan memimpin kaum penghayat dalam paguyuban atau organisasinya. Ia adalah pemuka atau pemrakarsa yang status kepemimpinannya dapat berasal dari keturunan (ascribed status) atau dari hasil ketekunannya dan prestasinya (achieved status) dalam budaya spiritual. Sedangkan mengenai yang kedua, SDM peserta atau kader adalah SDM yang berperan-serta dalam kegiatan-kegiatan laku penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan dalam kegiatan-kegiatan lain paguyuban atau organisasi.
III. Paguyuban atau Organisasi
Para pelaku penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan SDM budaya spiritual sekarang ini hidup dan bergaul dalam masyarakat moderen. Tak bisa dihindari paguyuban atau organisasi yang dijalankan adalah organisasi moderen yang menyesuaikan kebutuhan, atau perpaduan antara organisasi tradisional dan moderen.
Seperti lazim diketahui, suatu organisasi memerlukan susunan pengurus, yakni orang-orang yang dipilih, dipercaya dan bertanggung-jawab menjalankan roda organisasi penghayat. Namun demikian harus diingat bahwa kepemimpinan dalam organisasi penghayat haruslah mumpuni dalam laku penghayatan dan laku spiritual. Oleh sebab itu kepemimpinan dalam budaya spiritual harus sejalan dengan karakteristik dan kebutuhan organisasi yang dipimpin yaitu organisasi budaya spiritual, organisasi kaum penghayat, yakni organisasi yang berorientasi olah rohani, olah spiritual.
Tokoh spiritual penghayat yang mumpuni, yang patut diteladani, berwibawa, wicaksana dan karismatik sangat diharapkan dapat memimpin dan mengarahkan organisasi dan pengikutnya untuk mencari dan menemukan ketentraman hidup melalui laku rohani, laku penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Tidak hanya itu, dalam kepemimpinan organisasi budaya spiritual tokoh demikian diharapkan sekaligus memimpin paguyuban atau organisasi yang harus menghadapi arus perubahan zaman yang begitu cepat, sedangkan pemimpin demikian kadang-kadang ”kurang sempat” memikirkan organisasi (moderen) yang sedikit banyak bersifat ”duniawi.”
IV. Dua Macam Kepemimpinan
Oleh sebab itu dalam paguyuban atau organisasi penghayat dapat dipertimbangkan adanya 2 (dua) macam kepemimpinan. Yang pertama, pemimpin spiritual dan yang kedua, pemimpin organisasi (moderen).
Yang pertama, pemimpin spiritual, diharapkan lebih sebagai penasehat (spiritual) yang memberi nasehat, mengarahkan dan mengajarkan kepada para penghayat tentang persoalan dan ajaran penghayatan atau kebatinan, gaib, spiritual, kerohanian. Biasanya pemimpin demikian adalah sesepuh yang disegani, dipercaya dan menjadi panutan para penghayat karena menyandang ”ilmu (gaib atau kebatinan) yang tinggi.” Pemimpin spiritual yang demikian diharapkan dapat membawa dan mengarahkan para penghayat pada ketentraman dan penciptaan suasana sejuk dalam kehidupan spiritual yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Upaya-upaya pelestarian dan pengembangan budaya spiritual yang diharapkan dapat mengimbangi gerak laju dan dinamika masyarakat dapat dilakukan dengan mengajak partisipasi aktif dari para pemimpin spiritual. Dalam upaya-upaya demikian, interaksi dan kerjasama antara para pemimpin pemerintahan, keagamaan, kebudayaan, politik, ekonomi dan para pemimpin spiritual penghayat harus terus digalang, terutama dengan maksud untuk pemahaman dan penyelasaran bersama mengenai masalah-masalah laten dan aktual masyarakat yang selalu terjadi dan berkembang. Interaksi dan kerjasama begitu penting terutama pada saat masyarakat dan bangsa menghadapi krisis dalam bidang-bidang kehidupan.
Dengan perkataan lain, dalam upaya pelestarian budaya spiritual yang selaras dengan dinamika perubahan dan perkembangan masalah-masalah zaman yang aktual, para pemimpin spiritual harus senantiasa bersiaga untuk turun gunung, turun dari gua pertapaan dan memandu para pengikutnya menghadapi persoalan zaman, agar mereka tidak merasa bingung, agar mereka merasa masih dapat menghayati nilai, ajaran luhur dan mulia sebagai pedoman hidup.
Adapun yang kedua, pemimpin organisasi (moderen) penghayat kepercayaan, dalam upaya pelestarian budaya spiritual harus menjalankan pengelolaan SDM dengan kegiatan-kegiatan spiritual secara konsisten. Organisasi atau paguyuban budaya spiritual harus dijalankan oleh para pengurus. Pemberdayaan organisasi yang dapat dilakukan adalah pemberdayaan pengurus atau pengelola organisasi. Meskipun terdapat penasehat spiritual, para pengurus atau pengelola organisasi atau paguyuban budaya spiritual sebisa-bisa memenuhi syarat-syarat khusus, seperti
(1) mumpuni atau memahami adat dan nilai-nilai tradisi spiritual masyarakat;
(2) memiliki kepedulian dan bersedia nguri-uri (mengelola, mengembangkan dan melestarikan adat dan tradisi dalam budaya spiritual) yang hidup dan berkembang dalam masyarakat;
(3) bertanggungjawab atau menjalankan komitmen untuk menghidupkan dan mengembangkan organisasi;
(4) menghayati dan mengamalkan adat dan tradisi dalam budaya spiritual;
(5) memiliki pandangan luas mengenai adat dan tradisi dalam budaya spiritual yang di-uri-uri tapi juga memiliki solidaritas yang tinggi terhadap adat dan tradisi lain.
Selain itu, seorang pengurus organisasi budaya spiritual akan lebih berharga jika:
(1) memiliki dedikasi atau pengabdian untuk mengetahui, memahami dan menghormati adat dan tradisi lain yang dianggap baik sehingga ia dapat memetik pelajaran darinya; dan
(2) tidak terjebak ke dalam chauvinisme, sektarianisme dan politik praktis, dengan mengembangkan kepemimpinan yang demokratis dan musyawarah.
Dia akan membawa organisasi budaya spiritual yang dipimpinnya dalam kancah kehidupan masyarakat moderen di antara organisasi-organisasi lain. Dia akan menjadi panutan bagi para pengurus lain yang membantunya menghidupkan dan mengembangkan organisasi budaya spiritual. Dia bertanggungjawab dalam pemberdayaan organisasi atau paguyuban beserta para pengurus yang bekerja bersamanya.
V. Pemberdayaan SDM Anggota
Anggota organisasi budaya spiritual dapat bersifat tetap dan tidak tetap. Pemberdayaan anggota dilakukan dengan penyusunan dan pelaksanaan program kegiatan. Di antara anggota atau pendukung harus terdapat donatur atau penyumbang organisasi, yang dapat diangkat sebagai anggota kehormatan atau status lain sebagai penghargaan terhadap sumbangannya. Pendukung dan anggota organisasi harus terdiri atas berbagai usia, kelas ekonomi, status sosial dan jenis kelamin. Untuk pengembangan dan pelestarian budaya spiritual, anak-anak dan kaum muda adalah pendukung dan anggota paling potensial.
Program-program kegiatan harus dilaksanakan dengan strategi, teknik dan metode moderen, jika tidak, organisasi atau peguyuban akan segera tenggelam ditelan zaman.
VI. Penutup
Dalam situasi masyarakat majemuk yang demikian kompleks, dengan perkembangan zaman yang penuh krisis, konflik dan keresahan, kiranya budaya spiritual menempati posisi yang strategis untuk mendorong dan mengajak masyarakat selalu eling lan waspodo.
Budaya spiritual dengan laku penghayatan manembah Gusti Allah Kang Murbeng Dumadi dengan hening, ning, ning diharapkan dapat mengendalikan dan meredakan nafsu dan hawa panas peradaban bangsa yang bergolak. Nuwun.
Rahayu, rahayu, rahayu.
Semarang, Sabtu Pahing, 19 April 2008.
Nurdien H. Kistanto
Guru Besar Antropologi dan Dekan Fakultas Sastra UNDIP. Mendapat gelar B. A. dan Drs. dari Universitas Diponegoro (1980), gelar M. A. dari Michigan State University, Michigan USA (1985) dan Ph. D. dari Sydney University, Australia (1995).
Daftar Pustaka
Giddens, Anthony. 1991. Sociology. Cambridge: Polity Press.
Jary, David, and Julia Jary. 1991. Collins Dictionary of Sociology. Glasgow: HarperCollins.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Propinsi Jawa Tengah. 2006. “Panduan Workshop Pemberdayaan Lembaga Adat Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006.” Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah.
Kistanto, Nurdien H. 2005a. “Pembekalan Moral-Spiritual Jawa bagi Pemimpin di Indonesia Masa Kini,” Laku Budaya Jawa II, Yayasan Studi Bahasa Jawa Kanthil Semarang, PGRI Jawa Tengah, dan PEPADI Komda Jawa Tengah, di Hotel Quality Sala, Rabu-Kamis, 2-3 Februari.
Read More...